Bergerak Tak Kenal Henti

Ada kehampaan yang ramai dalam benakku pagi itu.

Hingga aku muak dengan rasa hampa itu.

Hingga aku tak lagi peduli akan jadi apa hari itu.

 

Sungguh, usir kehampaan itu dari kepalaku sekarang!

Setiap aku berkata pada diri sendiri,

Ada yang harus kau kerjakan!

Ada amanah yang harus kau emban di hari itu!

Ada hak orang lain yang harus kau penuhi!

 

Tapi jawaban dari semua itu adalah rasa hampa ini.

Rasa tidak ingin melakukan apappun

Tidak ingin mengerjakan apapun

Tidak ingin menjadi apapun

Hampa.

 

Tapi aku harus bergerak,

Karena aku tahu,

Bahwa hanya dengan bergerak hampa itu bisa hilang.

 

Maka,

 

Hari itu berlalu.

Aku pun bergerak tak kenal henti.

Dan ketika aku pulang,

Kepalaku berisi bising.

Berisik.

Sesak.

Penuh dengan ide yang dijejalkan.

 

Dan tanpa kusadari hampa sudah hilang dari sana.

Digantikan teriakan haus :

 

Ayo tulis sekarang juga!

Makhluk buas di kepalamu

Ide-ide yang memenuhi kepalamu

Lepaskan sekarang!

Ayo menulis!

 

Jika tidak, mungkin dia akan berhenti mengeluarkan suara

Dan digantikan lagi dengan rasa  hampa

 

Wallahu Alam.

 

Sungguh hanya Dia-lah yang bisa membolak-balikkan hati.

Dan nikmat mana lagi yang akan  kamu dustakan.

 

 

 

Advertisements

(The) Last Night

First Night

Hazmah menatap wanita yang berdiri di sebelah ranjang tidurnya. Wanita itu tersenyum. Matanya yang biru bersinar di tengah gelapnya malam.

“Jangan ragu untuk datang lagi jika ingin mendengarkan nyanyianku, Mischa. Tetapi sebagai gantinya, ceritakan padaku dunia di luar sana ”

Mischa mengangguk menanggapi Hazmah yang terkulai di atas ranjang.

 

Third Night

Ini malam ketiga Mischa mengunjungi Hazmah di ranjang tidurnya. Dia masuk melewati balkon kamar dan duduk di sebelah ranjang Hazmah untuk mendengarnya bernyanyi.

Hazmah tidak tahu dan tidak peduli siapa Mischa sebenarnya, kenapa dia hanya berkunjung di malam hari, atau kenapa dia selalu berpakaian serba hitam. Hazmah hanya senang Mischa mengunjunginya dan bercerita untuknya.

Hampir sepanjang hidupnya, Hazmah tidak bisa keluar kamar dan hanya bisa tidur di atas ranjangnya. Dia mengalami kelumpuhan total sejak kecil. Hazmah tidak dapat melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Oleh sebab itu, Hazmah senang jika ada yang bercerita tentang dunia luar padanya, dunia yang tidak pernah dimilikinya.

Hanya Suster Hani, perawat pribadinya, yang menemani Hazmah,”Kak Hazmah, apakah kau tahu bahwa di sekitar kompleks ini ada virus berbahaya yang menyebabkan orang kehabisan darah? Katanya sudah ada 2 orang yang meninggal di komplek ini” Begitulah cerita suster Hani di hari itu.

Oleh sebab itu, Hazmah senang jika Mischa berkunjung dan bercerita untuknya. Bahkan malam ini, Mischa bercerita tentang negeri yang dikelilingi padang pasir. Mischa juga satu-satunya orang yang tidak memperlihatkan tatapan prihatin atas kondisi Hazmah. Mischa berbincang pada Hazmah seakan-akan Hazmah tidak memiliki penyakit apapun. Itulah hal yang paling disukai Hazmah dari Mischa.

 

Seventh Night

Hanya ketika Mischa datang, Hazmah bisa menghirup udara segar. Betapa tidak, jendela kamar Hazmah hanya terbuka saat Mischa datang. Kini Suster Hani selalu menutup jendela kamarnya sepanjang hari. Dia takut ada virus yang bisa membuat Hazmah meninggal kehabisan darah.

Mendengar cerita ini, Mischa tertawa terkekeh-kekeh. Inilah malam pertama Hazmah melihat Mischa tertawa. Biasanya Mischa selalu bertampang datar tanpa emosi bahkan ketika bercerita. Tapi Hazmah selalu suka Mischa yang bercerita secara bijak dan memiliki banyak sekali pengalaman hidup. Seakan-akan dia sudah hidup sejak lama sekali.

 

Tenth Night

Kini setelah menyanyi untuk Mischa, Hazmah lebih sering diam karena tubuhnya semakin lemah dan sering mengalami sesak nafas.

“Apakah kau pernah berpikiran untuk mati?” Celetuk Mischa malam ini. “Maaf, tapi aku hanya penasaran. Walaupun hidup, kau sama sekali tidak bisa bergerak dan selalu bergantung pada orang lain. Kau juga tidak bisa menjalani kehidupan normal seperti orang lain. Tidakkah terpikir olehmu agar lebih baik mati saja?”

Tentu saja pernah, dahulu sekali.

“Apakah kau tahu, Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa alasan. Setiap kehidupan yang lahir ke dunia ini pasti punya alasan. Alasan hidup yang unik. Termasuk pula hidupku. Itulah yang membuat semua kehidupan di dunia bergitu berharga. Kini aku hanya bisa bersyukur telah hidup”

Mischa tersenyum mendengar jawaban Hazmah.

“Oleh sebab itu, aku sama sekali benci terhadap orang yang tidak menghargai kehidupan. Kau ingat ceritamu tentang Bandit di negara barat itu? Aku benci mereka. Mereka sama sekali tidak mengerti bahwa setiap kehidupan itu berharga, dan dengan seenaknya mengambil nyawa begitu saja!”

Entah kenapa kini senyuman Mischa menghilang.

 

Fifteenth Night

“Maaf, aku tidak bisa bernyanyi malam ini. Dokter melarangku. Tubuhku sudah semakin lemah”

Wanita bermata biru itu mengelus rambut Hazmah. Tatapan matanya tetap sayu dan raut wajahnya tidak berubah. Tapi Hazmah selalu suka ketika Mischa menyentuhnya. Sesuatu yang jarang didapatkannya sejak orangtuanya  bekerja sangat keras demi biaya pengobatan Hazmah.

“Apakah kau sakit, Mischa? Akhir-akhir ini kau begitu kurus”

Mischa memeriksa tubuhnya yang kini kurus kering. Lalu dia berkata pada Hazmah

“Kau pernah bilang bahwa kehidupan itu unik dan berharga dan setiap orang berhak untuk hidup. Tapi aku merasa bahwa aku adalah satu-satunya orang yang tidak pantas untuk hidup, Haz” ujar Mischa

“Kenapa kau bicara seperti itu?!”

“Rasanya aku hidup hanya untuk membuat orang lain menderita”

“Tidak ada yang seperti itu, Mischa. Kau pasti memiliki hal berharga yang membuatmu pantas hidup”

“Kau tidak tahu apa-apa!!”

Seandainya Hazmah bisa bergerak, mungkin dia sudah melonjak  kaget karena teriakan Mischa. Seluruh badan Mischa bergetar dan dia mengepalkan tangannya dengan kencang.

“Kau tidak tahu bahwa ada orang lain yang hanya bisa hidup dari merenggut kehidupan orang lain! Jika dia tidak membunuh orang lain, maka dia akan mati. Kau tidak tahu apa-apa, Haz! Orang  seperti itulah yang tidak pantas hidup!”

Cukup lama Hazmah mencerna apa yang dikatakan oleh Mischa. Saat Mischa masih terengah-engah karena marah, Hazmah lalu berkata.

“Jika benar ada orang yang hanya bisa hidup dengan merenggut kehidupan orang lain, maka aku rela direnggut nyawa olehnya”

Mischa menatap wajah Hazmah dengan terbelalak.

“Meskipun aku bilang setiap hidup berharga. Tapi tidak ada yang abadi. Setiap kehidupan, betapapun berharganya kehidupan itu, dia pasti akan mati. Maka, jika aku bisa memilih kematianku. Bukankah bagus jika bahkan kematianku pun bisa menjadi kekuatan bagi seseorang? Kalau aku bisa memilih untuk mati. Maka aku ingin bahkan kematian ku berguna bagi orang seperti itu. Orang yang bisa hidup dari kematianku”

Ini pertama kalinya Hazmah melihat Mischa meneteskan air mata.

 

The Last Night

Semenjak saat itu, Mischa tidak pernah datang lagi.Tubuh Hazmah pun semakin lemah. Seluruh tubuhnya dipasangi alat dan dia tidak akan bertahan jika alat itu lepas darinya.

Tapi kini, jendela kamar Hazmah terbuka setiap saat. Suster Hani bilang, virus berbahaya itu sudah menghilang dan sudah tidak ada lagi korban yang meninggal kehabisan darah. Di saat itulah Hazmah sadar, bahwa korban dari virus itu berkurang sejak Mischa menjadi kurus kering dan kini menghilang sejak Mischa tidak pernah berkunjung lagi.

Malam itu menjadi malam yang paling sepi dalam hidup Hazmah seandainya Mischa tidak berkunjung untuk terakhir kalinya. Matanya yang biru meneteskan air mata melihat keadaan Hazmah saat ini. Hazmah akhirnya bisa mengatakan perkataan terakhir yang sangat ingin dia sampaikan pada Mischa.

Terima kasih sudah hidup.

Paginya, Hazmah ditemukan meninggal di atas ranjangnya kehabisan darah. Ada bekas gigitan di lehernya.

Road to Change

Suatu waktu aku menyapa seorang sahabat yang kini tinggal di surabaya lewat Line Chat. Sahabat seperjuanganku waktu kuliah dulu. Saat itu sedang bulan ramadhan, dan aku bertanya padanya bagaimana dia menjalani ramadhan nya.

Sahabat ini selalu kuakui sebagai ukhti yang sholehah. Gerak geriknya cukup anggun (dibanding aku) dan penjagaan prinsip nya cukup kuat (dibanding aku). Jadi terkadang aku suka belajar darinya bagaimana menjadi muslim sholehah.

 

“Aku ramadhan ini mau berusaha untuk jarang buka hape”

“eh?”

“iya, jadi biar ramadhan nya lebih khusyu, aku mau jauh dari hp dulu, syif. Jadi mungkin aku bakal jarang buka chat dari kamu”

“…………………………”

 

Setelah baca itu aku langsung merenungi diri sendiri. Mau jauh dari hape? di zaman millenial seperti ini? Dari mulai ngobrol sama orang yang jauhan, sampe liat jam, semuanya pake hp. Dia bilang mau jauh dari hp biar khusyu? Emang orang ini paling the best dalam urusan menjaga dirinya sendiri. Aku jadi miris melihat diriku sendiri.

“Emang Syifa gimana ramadhan nya?” Pertanyaan beliau terhenti menggantung di layar hp ku.

Lah aku malah kebalikannya.

Aku malah berencana menggunakan hp ku sebaik-baiknya saat ramadhan. Setidaknya ada 2 app utama yang berencana kugunakan waktu ramadhan. Yang pertama, tentu aja Al Quran. Satu lagi app bernama habitica, app menyenangkan berbentuk games untuk memupuk kebiasaan baik.

Di saat sahabatku ini berusaha untuk menjauhi HP untuk menghindarinya dari hal-hal yang menghilangkan kekhusyuannya saat ramadhan. Aku menggunakan HP ku sebaik-baiknya untuk berjuang di ramadhan ini (lewat games tepatnya :P)

Tapi aku tahu, hal itu cukup ampuh bagi diriku yang masih lebih suka main daripada nyunnah. Aku tahu itu lebih ampuh untuk diriku yang masih belum bisa zuhud. Jadi dibanding menjauhi hp, aku lebih memilih memanfaatkan hp ku untuk main nyunnah.

Jalan lurus memang cuma satu jalur, tapi tiap orang punya caranya tersendiri untuk menempuh jalan itu kan? Ada berbagai cara untuk menempuh jalan yang lurus dan setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Sama seperti zaman rasul dahulu, ada 10 cara berbeda untuk masuk surga, yang diperlihatkan oleh 10 sahabat nabi dengan perangai yang berbeda-beda.

Maka mulai sekarang, berhenti membandingkan amalan sendiri dengan orang lain. Tiap orang punya amalan spesial nya masing-masing.

 

Screenshot_20171107-092355

App Habitica yang membuatku bertahan saat Ramadhan

Aku Sih Dikira Pintar Karena Sekolah

Status pendidikan anak merupakan hal yang selalu dibanggakan oleh setiap ibu di dunia ini. Betapa tidak, ibu lah yang sudah mendidik anak-anaknya agar mendapat pendidikan terbaik. Agar bisamenjadi orang yang sukses. Agar anak-anaknya bisa menjadi orang pintar. Atau bahkan bisa membuat mereka dikira pintar.

“Anaknya sekolah dimana, bu?”

“Di sekolah *****, bu”

“Waah pinter ya anaknyaa. Itu kan sekolah favorit”

Ohh betapa bangganya ibu mendengar hal itu.

Ukuran pintar tidaknya anak adalah dimana dia bersekolah. Benarkah itu?

Dalam kasusku, ibu selalu memberikan pendidikan terbaik hingga saat ini. Dari jenjang-jenjang pendidikan yang aku alami selama hidup,  aku memasuki beberapa sekolah favorit di Bandung. Membuatku bertitel  ‘pintar’ di mata ibu-ibu lainnya. Tetapi kukira mereka keliru.

Dari kecil hobiku memang membaca. Dilihat dari hobi saja, aku sudah dikira orang cerdas. Padahal hobi membaca tidak menjamin orang jadi pintar. Contohnya adalah ketika aku berumur sekitar 5 atau 7 tahun. Saat itu, aku sedang membaca buku kesukaan sedangkan adikku yang masih bayi tidur di atas ranjang. Ibu menyuruhku untuk menjaga adikku.

“Ibu mau masak dulu di dapur”

Begitulah alasan ibu meninggalkan aku berdua dengan adik di kamar. 10 menit kemudian. Aku masih membaca. Dan adikku sudah berguling-guling di atas kasur. 15 menit kemudian. Aku tetap membaca dan adikku tetap terjatuh ke bawah. Suara keras tubuh bayi yang terjatuh ditambah suara tangisan membuat ibu berlari ke kamar dan menyelamatkan adikku.

“Kamu itu gimana! Kan ibu bilang jagain adikmu!”

“Jangan salahin aku bu! Aku ga ngapa-ngapain kok! Dia jatuh sendiri, itu mah bukan salah aku!”

Ibu ku hanya tepok jidat.

Jawaban yang tidak pintar kan? Sudah kubilang, membaca buku tidak menjamin dirimu jadi pintar. Terkadang dia hanya membuatmu jadi terlihat pintar tanpa melihat sekeliling.

Saat SD, ibu menyekolahkanku di SD swasta. SD ini merupakan SD terbaik yang menjadi langganan keluarga dari jaman kakekku. SD dengan sistem pembelajaran yang cukup strict. Hari ini PR, besok PR lagi, besoknya lagi ulangan, besoknya PR lagi, dst, dst. Buku agenda kuning harus selalu dibawa dan berisi list PR dan tugas yang harus dikerjakan. Buku itu tidak pernah kosong. Hidupku di SD tidak terlalu kuingat selain tugas-tugas itu  dan kekonyolan-kekonyolan anak kecil.  Masa-masa SD berlalu cepat dan tiba-tiba aku sudah diterima di salah satu SMP favorit Bandung. Sampai sekarang aku bahkan  tidak ingat  ada yang namanya UN waktu SD. Yang kuingat saat itu adalah aku harus belajar keras, memberikan yang terbaik, dan mendapat nilai terbaik. Singkatnya aku akhirnya sekolah di SMP favorit.

“Waah pinter ya, anaknya masuk SMP itu”

Padahal nama SMP favorit belum tentu menjamin seseorang menjadi pintar. Saat di SMP, aku bukanlah termasuk orang yang tekun belajar seperti orang pintar pada umumnya. Aku termasuk orang yang suka nongkrong dengagn teman-teman ku. Tempat nongkrong langganan ku berada di salah satu sudut sekolah. “Tempat kebahagiaan”; begitulah kami menamai tempat itu. Berbagai kekonyolan terjadi di tempat kebahagiaan tersebut. Dari mulai sekedar ngobrol-ngobrol dengan tema beraneka ragam, nyanyi-nyanyi ga jelas, ngegosipin orang, hingga jailing orang. Kami berada di tempat itu hampir setiap waktu. Saat istirahat, saat jam kosong, waktu pulang sekolah, bahkan hingga jam 4 sore.  Yang penting kami bahagia.

Oh, hobiku membaca masih berlanjut. Tapi bukanlah membaca buku pelajaran yang membosankan, bukan pula membaca buku wawasan dan ensikopledia. Tetapi membaca komik dengan cerita-cerita fantasi di dalamnya. Komik dan novel adalah makananku sehari-hari waktu SMP. Saking senannya membaca komik, aku sampai dipanggil ke ruang BK karena pernah membaca komik waktu pelajaran matematika. Tidak pintar kan? haha

Tetapi, saat di SMP itulah aku menemukan orang pintar yang sesungguhnya. Bukan hanya orang yang dikira pintar karena berhasil lulus masuk ke sekolah favorit. Bukan juga orang culun berkacamata dan suka diem di pojok perpustakaan. Tetapi orang yang suka belajar. Orang yang suka mempelajari ilmu-ilmu baru. Orang yang sepertinya paham untuk apa dia belajar. Orang-orang itulah yang menempati juara kelas di tiap kelasnya.

Ya, sangat berbeda denganku, yang masuk sekolah hanya untuk menuntaskan kewajiban pada orang tua. Dan di sekolah kerjaannya cuma main. Tapi toh, meskipun aku menghabiskan waktu di sekolah dengan main, aku masih dikra pintar karena berada di sekolah favorit. Aku cukp datang tiap hari, dengerin guru, ngerjain pr sudah cukup dibilang pintar. Mungkin karena itu juga, nilai ku tidak sebagus nilai-nilai waktu SD. Mungkin karena itu pula aku masih ranking 150 sekian dari 300 murid. Mungkin karena itu pula nilai UN tidak membuat ku masuk ke SMA Favorit. Mungkin aku memang bukan orang pintar.

Kebanyakan orang yang masuk SMA favorit saat itu adalah orang yang pintar mencari jawaban UN, bahkan sebelum UN terlaksana. Ya, pada tahun ketiga di SMP aku baru mengenal yang namanya bocoran kunci jawaban UN. Jual beli kunci jawaban UN dilakukan cukup terang-terangan. Aku masih ingat banyak berita mengenai hal ini di televisi. Banyak orang yang ketahuan membeli kunci jawaban UN demi masuk ke SMA favorit. Mungkin mereka sangat ingin dikira pintar. Kalau aku? Aku memutuskan untuk tidak mengandalkan bocoran soal. Aku bertekad untuk menggunakan kekuatan ku sendiri untuk masuk ke jenjang berikutnya. Mungkin aku ingin tahu, apakah aku benar-benar pintar atau hanya dikir pintar.

Sialnya, bocoran soal yang dibeli oleh orang-orang adalah bocoran soal yang ampuh dan bukan hoax. Aku sendiri tidak tahu siapa saja yang membeli kunci ini di sekolah. Tetapi aku bisa melihat keanehannya ketika diperlihatkan nilai-nilai yang terpajang di pengumuman. Orang-orang yang kutahu benar-benar pintar, berada di ranking 100an dari 300 besar. Aku, yang dikira pintar, berada di ranking 150an dari 300 besar. Dan mereka, yang dikira pintar, dan nyatanya pintar mencari jawaban UN berada di ranking 50 besar.

Dampaknya? Orang-orang yang beneran pintar tersebar di SMA-SMA lain di Bandung. Dan aku masuk ke SMA kluster 2. Saat masuk kesana, nilai UN ku saat itu berada di peringkat 7 terbawah. Mungkin aku memang tidak pintar. Tetapi aku tidak menyesal. Yang aku kasihani adalah mereka yang masuk SMA favorit bukan karena perjuangan mereka. Mereka yang masuk SMA favorit demi mengejar nama sekolah. Mereka yang dikira pintar karena masuk SMA Favorit. Entah itu nilai UN dari mana, asal kamu masuk SMA favorit, kamu akan dikira pintar.

Masa-masa SMA pun kulalui dengan penuh suka duka keringat air mata. Banyak drama sekolah yang terjadi saat SMA. Dan, seperti kebanyakan orang lain, banyak kekonyolan yang terjadi saat SMA. Hidup kekonyolan-kekonyolan masa SMA!

Dan masa-masa SMA berlalu dengan berbagai kenangan. Di tahun ketiga, datang kembali ujian terbesar semua anak SMA. Ujian yang menguji semua hal yang mereka pelajari di SMA. Dan sama seperti saat SMP, jual beli kunci jawaban sudah menjadi hal wajar sekarang. Bahkan cukup terang-terangan. Seperti 3 tahun lalu, aku memutuskan untuk berjuang dengan kemampuan sendiri. Dan akhirnya lulus dengan nilai pas-pas an.

Tetapi ada satu ujian lagi. Ujian paling jujur. Tidak ada ‘jalan pintas’ untuk lulus dalam ujian yang satu ini. Ujian yang bisa menentukan jenjang sekolah berikutnya. Yaitu ujian masuk PTN atau nama gaulnya SBMPTN. Teman-temanku yang dulu pintar beneran, yang terlempar ke berbagai SMA, bisa lulus ujian ini dengan cukup memuaskan. Tidak sedikit yang masuk universitas bagus melalui ujian ini. Memang benar, mereka bukan lah orang-orang yang dikira pintar karena sekolah. Dimanapun mereka sekolah, mereka menjadi orang pintar dengan caranya sendiri.

Sedangkan aku? Walaupun kini cukup berhasil masuk sekolah-sekolah favorit, walaupun kini aku hampir lulus dari (yang katanya) salah satu universitas terbaik bangas, aku mulai bingung. Bagaimana carany aku memanfaatkan ilmu yang aku dapatkan. Semua jenjang yang kucapai, Semua status sekolah favorit yang kucapai, akan sia-sia jika aku tidak bisa memanfaatkan ilmu. Biar dikata orang pintar atau bodoh. Di suatu waktu akan datang saat pembuktian dari ilmu-ilmu itu. Ketika ilmu itu diamalkan, ga ada lagi orang yang penasaran apakah kamu dari sekolah favorit atau tidak.

Wallahu’alam

#1minggu1cerita

1mg1cerita

Ustadz Taraju : Tentang Zuhud

Pernahkan kalian mendengar kisah Rasulullah SAW dan para sahabat? Pernahkah kalian mendengar kisah tentang betapa zuhud nya mereka? Jika kita membaca-baca sirah mereka, kita akan tahu seberapa besar mereka mementingkan akhirat dibanding dunia. Misalnya saja, ada seorang sahabat rasul yang hanya memiliki 2 potong kain saja. Sahabat rasul yang lain, rela memberikan seluruh hartanya untuk akhirat. Ada pula sahabat yang apabila duduk berdampingan dengan pembantunya, tidak bisa dibedakan dengan pembantunya.

 

Ke zuhud an mereka tidak ada tandingannya, mereka lah generasi terbaik umat Islam. Ketika membaca sirah-sirah sahabat, terkadang saya bertanya- tanya. Di zaman seperti ini, apakah zuhud seperti itu bisa kita lakukan? Pertanyaan itu di jawab oleh tindakan seorang ustadz. Seorang ustadz yang tinggal di daerah Taraju, Tasik. Sebut saja ia Ustadz Taraju (maaf, saya lupa nama pak ustadz :”)

 

Saya pun mendengar cerita ini dari ayah saya. Ustadz Taraju ini tinggal bersama istrinya. Ia memiliki 8 anak. Ketika masuk ke rumahnya, rumahnya sangat sederhana. Terlampau sederhana malah. Atap nya penuh tambalan dimana-mana. Ia tidak pernah mengganti bagian rumah nya yang telah rusak, ia hanya menambal dan menambah bagian-bagian yang rusak tersebut. Itu pun memakai bahan-bahan seperlunya dan yang sudah ada. Rumah itu berdiri dengan sederhana dan penuh tambalan, yang penting rumah tersebut bisa melindungi mereka dari cuaca. Selain itu, Ia hanya memiliki 4 pakaian saja. Bisa kalian bayangkan, pakaiannya hanya 4 saja! Mencuci baju pun seperti nya tidak akan sulit. Selain itu, ia makan seadanya. Selain nasi, hanya 2 jenis lauk saja. Yang penting perut terisi. Ia jarang sekali memakai kendaraan. Ia lebih mengutamakan berjalan dibanding memakai kendaraan. Ia juga tidak pernah menerima shadaqah dan hanya menerima hadiah.

 

Jika ia diberikan uang, ia memakai uang itu dengan sangat amanah. Suatu ketika, ada orang lain yang memberikannya uang kira-kira sebesar ratusan ribu rupiah. Orang itu hanya berkata “ini uang untuk bensin, pak”. Tentu kita sama-sama tahu, bahwa uang itu bisa dipakai untuk membeli hal lain selain bensin. Tetapi sang ustadz, dengan amanah, ia memang memakai seluruh uang itu untuk bensin. Lain lagi jika di amanahi atau diberikan uang untuk sesuatu yang makruh, contohnya “ini pak, uang untuk rokok”. Sang ustadz tak segan-segan membakar uang tersebut dibanding membelanjakan dengan sesuatu yang buruk.

 

Itulah sekilas kehidupan sang ustadz Taraju. Bagimana Ustadz Taraju melakukan kezuhudan seperti para sahabat rasulullah. Di saat orang-orang berusaha hidup di rumah yang paling nyaman, ustadz taraju memilih hidup di rumah yang sederhana. DI saat orang-orang berlomba-lomba membeli baju dan membeli apa yang mereka inginkan, Ustadz Taraju hanya memiliki pakaian yang dibutuhkan untuk sehari-hari. Di saat orang-orang memilih makanan yang mereka inginkan, Ustadza Taraju hanya makan makanan yang dibutuhkan. Beliau begitu zuhd dan takut hartanya dihisab.

 

Tetapi, bukan berarti kita harus membuang semua pakaian kita hingga tinggal 4. Bukan berarti kita harus memiliki rumah yang sangat sederhana dan kecil. Bukan berarti kita harus berjalan ke manapun kita pergi dan jarang menaiki kendaraan. Bukan berarti kita harus membakar uang. Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan. Tapi ini adalah bahan refleksi diri. Coba kita lihat diri kita, coba kita lihat apa yang kita makan, coba kita lihat berapa banyak baju yang kita beli, coba kita pikirkan kemana saja kita pakai uang kita. Seberapa sering kita membeli apa yang kita inginkan dibanding apa yang kita butuhkan. Seberapa sering kita berpikir tentang hari hisab sebelum membeli sesuatu.

 

Mendengar kisah Ustadz Taraju membuat kita belajar untuk zuhud. Ketika kita memilih akhirat dibanding dunia. Ketika kita benar-benar takut jika semua harta ini dihisab pada hari kemudian. Ketika kita memilih apa yang kita butuhkan dibanding apa yang kita inginkan.

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

“Jika surga dan neraka tak pernah ada,

Masih kah kau sujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada,

Masih kah kau menyebut nama-Nya”

Yah, itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Jika surga dan neraka tidak pernah ada, apakah arti hidup kita selama ini?

Jika surga dan neraka tidak pernah ada, lalu apalah arti semua ibadah dan penantian kita?

Tapi, kita mungkin bisa mendapatkan jawaban itu dari seseorang.

Seseorang yang dikenal sebagai kekasih-Nya.

Mungkin, keberadaan surga dan neraka, tidak berpengaruh apapun baginya,

Mungkin, kekhawatiran akan masuk neraka, tidak pernah dirasakannya,

Sebab kehidupannya di Surga sudah terjamin,

Ialah Rasulullah, Muhammad SAW

Rasulullah SAW selalu menangis saat shalat malam dengan bercucuran air mata sepanjang shalatnya.

Baik saat rukuk, saat sujud, hingga sampai akhir salamnya.

Sehingga membuat Istrinya heran.

Bukankah Rasulullah SAW sudah dijamin masuk surga?

Kenapa ia masih saja ber ibadah dengan susah payah?

Rasulullah hanya berkata, SAW :

Afala uhibba, an akunna ‘abadan syakuura

“Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Keluarga Bu Ahmad

Pintu diketuk.

Ketika pintu terbuka, kami disambut oleh wajah hangat seorang ibu. Awalnya ia terdiam beberapa detik untuk mengenali kami. Di detik ia menyadari siapa yang bertamu ke rumahnya, senyuman merekah di wajahnya. Ia menyambut kami dengan senyuman hangat dan pelukan. Wajar saja, kami sekeluarga belum pernah bertemu dengannya sejak bertahun-tahun lamanya.

Ibu itu bernama Bu Ahmad.

Bu Ahmad menyambut kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Kami juga disambut oleh 3 dari 4 anak perempuannya. Oh, tentu saja mereka menyambut kami dengan sangat hangat. Senyuman dan tawa menghiasi ruang tamu seketika. Rumah menjadi hangat dan kami memulai obrolan tentang masa-masa lampau.

Pembicaraan dengan Bu Ahmad dan keluarganya benar-benar sangat menyenangkan. Apalagi kami baru bertemu lagi di hari-hari fitri ini. Ia menyuguhkan kami makanan, bercanda dan mengobrol dengan kami. Suasana yang hangat ini terus bertambah hangat dengan kehadiran suaminya dan juga anak ketiga yang merupakan teman lama ku.

Jika kau mulai menebak siapakah Bu Ahmad, kau mungkin tidak percaya bahwa Bu Ahmad ini tidak memiliki hubungan darah apapun dengan kami semua. Ia juga bukan teman kerja dari orang tua. Kami pun hanya mengenal nya beberapa tahun saja, itupun 16 tahun yang lalu.

16 tahun lalu, kami tinggal bertetangga dengan Bu Ahmad. Saat itu bahkan aku masih taman kanak-kanak. Tapi tentu saja aku ingat tentang keluarganya. Salah satu anaknya menjadi sahabat ku ketika aku masih TK. Beberapa tahun kami tinggal bertetangga dengan Bu Ahmad, sampai suatu hari kami harus pindah rumah. Setelah itu, kami tinggal bejauhan dengan bu Ahmad. Kami pun sempat berpindah-pindah ke berbagai tempat. Tapi, kami selalu menyempatkan bertamu ke Bu Ahmad.

Kini, kami bersilaturahmi kembali dengan keluarga Bu Ahmad. Aku tidak menyangka suasananya sangat hangat dan ceria. Bahkan lebih ceria dibandingkan bertamu ke rumah saudara sendiri. Padahal keluarga Bu Ahmad hanyalah satu keluarga yang menjadi tetangga kami 16 tahun lalu. Bahkan kami tidak tiap hari bertemu dengannya. Bahkan kami tidak ada hubungan darah apapun. Tapi inilah ikatan itu, ikatan yang disambungkan dengan silaturahmi.